Meninggalnya Riswandha Imawan sungguh mengagetkan, terutama untuk orang-orang yang selama ini mengenalnya, mengingat usia yang masih muda (51 tahun) dan kesan sosok ilmuwan bergelar profesor yang tegap, gagah dan energik.
Jumat siang (4/8) pukul 15.15, setelah seharian rewel, gprs modem saya akhirnya beres juga. Seperti biasa halaman pertama yang saya buka ya email dan detik.com. Bener2 kaget, halaman pertama detik ternyata sudah ada 3 berita tentang meninggalnya Pak Riswandha. Baru saya tahu beliau meninggal mendadak karena serangan jantung setelah pingsan di Bandara Adisucipto Yogyakarta siang itu. Akhirnya saya memutuskan pulang ke jogja sore itu juga, setelah membatalkan janji ketemu malam itu dan sabtu pagi dengan beberapa teman untuk membicarakan sebuah proyek, karena toh minggu depan saya akan ke Jakarta lagi. Beruntung tiket kereta Argo Lawu berhasil saya peroleh, karena sore itu adalah week end dimana tentu banyak orang ingin pulang kampung.
Sabtu siang, saya, bersama ibu, turut melepas kepergian Pak Riswandha bersama keluarga besar UGM di Balairung UGM. Tidak hanya rekan-rekan seprofesi sesama dosen, karyawan UGM, dan mahasiswa FISIPOL UGM, juga beberapa tokoh politik dan tokoh partai dari Jakarta yang hadir dan dekat dengan almarhum. Saya pun yakin kebanyakan pelayat siang itu, seperti juga saya, adalah pengagum-pengagum almarhum yang mengenal dekat almarhum lewat tulisan-tulisannya di berbagai media yang memang tak terhitung jumlahnya. Luasnya pergaulan almarhum juga tampak dari karangan-karangan bunga yang dikirim sebagai ungkapan duka cita, baik dari kalangan pejabat negara, pejabat daerah, wakil rakyat, kalangan akademik, dan rekan-rekan almarhum. Begitu banyaknya pelayat yang hadir, saya menjadi tidak sempat bersalaman dengan keluarga almarhum.
Bertemu dan berbincang dengan teman-teman pelayat lain yang hadir siang itu, saya merasakan atmosfir kehilangan yang sangat besar dari rekan-rekan dekat almarhum semasa mengabdi di UGM. Mereka bercerita panjang lebar mengenai keseharian almarhum, Pak Riswandha orang yang suka humor dan selalu menghargai orang lain; Pak Riswandha sangat egaliter, sering bercanda dan kadang meledek teman-teman dan mahasiswanya, walau demikian mereka justru merasa dekat dengan beliau; Pak Riswandha terkenal brilian dan sangat kritis dalam tulisan-tulisannya, beliau mampu menciptakan tema yang khas dan spesifik dalam bahasan tulisannya yang bahkan dosen- dosen lain jarang bisa mencapainya; Pak Riswandha sangat prihatin dan malu dengan gejala pelacuran intelektual yang merajalela, dan justru Pak Riswandha sangat enjoy dan teguh dalam pendiriannya untuk tetap bebas bersuara, sebagaimana motto yang selalu ditulis di akhir tulisan-tulisannya, "Eagle Flies Alone", hal yang seolah menjadi mata air di padang pasir yang kering, di tengah gejala tokoh-tokoh intelektual yang masih suka mengamini apapun yang dikatakan tokoh nasional, walau ucapan mereka itu keliru, dan ketika tokoh-tokoh akademisi lebih memilih masuk dalam kubu-kubu politik, bahkan menjadi anggota DPR; Pak Riswandha ingin menjadi rajawali yang bebas, hal yang justru membuat Pak Riswandha mendapat tempat di masyarakat, suara lugas dan tulisan-tulisan kritisnya banyak dimuat dan diulas di berbagai forum dan media tanah air. Setelah kepergian Pak Riswandha (dan juga Pak Affan Gafar beberapa tahun lalu), FISIPOL UGM perlu waktu panjang untuk mencari penerus sekaliber beliau.
Saya sendiri mengenal almarhum karena dikenalkan Bapak saya, namun selebihnya saya adalah pengagum tulisan-tulisan almarhum di media massa yang tidak pernah saya lewatkan apabila menemukannya, baik di harian Kompas, Kedaulatan Rakyat, Jawa Pos, atau Tempo. Tulisan-tulisan almarhum saya rasakan sebagai jawaban paling mujarab untuk menjelaskan kegundahan, kesedihan, kedongkolan dan kejengkelan saya menyimak berbagai fenomena politik, ekonomi, dan sosial di Indonesia. Terkadang saya memang risi dan malu hidup di negeri dengan pemimpin-pemimpin yang moralitasnya sama sekali tak bisa dibanggakan ini.
Ketika saya bingung memahami pertengkaran antar anggota DPR yang sudah sampai pada tingkat yang memalukan dan menjijikkan, Pak Riswandha muncul dengan tulisan "Kutukan Demokrasi Parlementer" dan "Negara Salah Kaprah". Mengingat awal kiprah DPR hasil pemilu tahun 2004 lalu, membuat kita miris. Dalam sidang-sidang untuk menentukan pimpinan fraksi saja mereka bekelahi habis-habisan dengan disaksikan segenap rakyatnya. Cara berpikir untung-rugi mendominasi perilaku mereka, yaitu "apa yang bisa dimanfaatkan" dari suatu posisi untuk meningkatkan harga jual partai. Rakyat pemilih hanya bisa bingung dan bengong menyaksikan keangkuhan wakil-wakilnya dan menyadari realita inilah hasil jerih payah pemilu yang telah membuang perhatian dan energi. Pak Riswandha kemudian menggambarkan politik Indonesia yang salah kaprah saat terpilihnya Wakil Presiden sebagai Ketua Umum Golkar, yang mengakibatkan ironi seorang Presiden yang secara formal adalah pemilik legitimasi, namun kenyataannya justru Wakil Presiden (yang didukung Golkar, pemilik suara terbesar di DPR) yang merasa lebih legitimate. Hasilnya adalah hadirnya dua nahkoda dengan pola dan tindakan yang berbeda, yang satu militer, yang satu pedagang. Pelayaran pemerintahan pun sering tertumbuk batu karang. Intensitasnya meninggi, hingga kita khawatir kapal tenggelam sebelum sampai ke tujuan.
Ketika saya gundah dengan gejala merajalelanya keserakahan para pemimpin bangsa, Pak Riswandha muncul dengan tulisan di KR, "Pragmatisme Penguasa" dan juga tulisan di Kompas "Vereniging Indische Compagnie". Pak Riswandha secara lugas mengungkapkan bahwa para pemimpin kita tidak akan mampu secara sukarela memikirkan kepentingan publik. Kebijakan yang mereka ambil akan senantiasa bernuansa kepentingan pragmatis demi interest segelintir kelompok elite. Susah untuk mengharapkan mereka berpikir secara jangka panjang dengan kebijakan stategis yang berdampak positif kepada kepentingan masyarakat banyak serta anak cucu mereka di masa depan. Maka kemudian muncul kebijakan-kebijakan seperti kenaikan harga BBM hingga hampir 100%, pembukaan kran impor beras besar-besaran, bagi-bagi dana kompensasi trilyunan dengan cara SLT yang justru menimbulkan konflik horizontal, pemberian hak kelola sumur minyak Cepu kepada Exxon, buaian janji pemberian bantuan hingga puluhan juta rupiah untuk pembangunan rumah korban gempa yang ternyata hanya tinggal janji. Pak Riswandha dengan sangat kritis menggambarkan pemerintahan di bawah kepemimpinan SBY-JK sebagaimana VOC baru, atau VIC, singkatan dari Vereniging Indische Compagnie. Fungsi VIC adalah sebagaimana VOC jaman Hindia Belanda, yakni menghisap kekayaan negara untuk kepentingan segelintir elite seraya menciptakan kemelaratan di tataran rakyat. VIC meletakkan kepentingan publik sebagai commercial goods, sehingga segalanya selalu diukur dengan uang. Apabila terjadi hambatan di level wakil rakyat, maka gaji dan tunjangan anggota DPR pun dinaikkan untuk menstimulasi mulusnya proses. Kebijakan pembagian dana kompensasi kepada warga miskin seolah mengukuhkan politik devide et impera ala VOC lama kepada pemerintahan SBY-JK untuk merusak struktur solidaritas sosial di level masyarakat. Metode pembagian dana dengan cara memberi kail daripada memberi ikan pun mereka abaikan, padahal hal ini terbukti di masa lalu (lewat program IDT misalnya) justru dapat lebih merangsang kemandirian rakyat.
Ketika saya betul-betul risi dengan budaya korupsi pejabat-pejabat pemerintah di segala lini pemerintahan, dari kepala daerah hingga wakil rakyat, dari pejabat elit, ajudan sampai sopir pejabat, Pak Riswandha kemudian muncul dengan tulisannya, "Kleptokrasi". Sungguh pemilihan angle tulisan yang menakjubkan, mewakili kecerdasan beliau dalam memahami gejala peristiwa yang terjadi. Budaya korupsi di Indonesia beliau istilahkan dalam terminologi kleptokrasi, yaitu tingkah laku orang berkuasa yang merasa apa yang diambil secara tidak sah karena jabatannya adalah sesuatu yang (seolah-olah) menjadi haknya. Korupsi merupakan jantungnya kleptokrasi, dan kekuasaan merupakan tulang punggungnya. Kleptokrasi menggejala di Indonesia karena kultur birokrasi mendukungnya. Jabatan elite di birokrasi tidak akan diberikan cuma-cuma, melainkan harus disewa. Untuk meraih jabatan tertentu di birokrasi ataupun di parlemen maka seseorang harus membayar, baik itu dari modalnya sendiri maupun bantuan orang lain. Maka ketika jabatan itu diperoleh, mereka harus menggunakan segala cara termasuk kekuasaannya untuk mengembalikan yang telah dibayar. Maka sikap pragmatis dan opportunis menjadi lumrah, dana rakyat pun mereka anggap menjadi haknya dan sah saja untuk diambil. Pak Riswandha memberikan pengecualian, satu-satunya lawan dari korupsi dan kleptokrasi adalah ideologi, namun sayang jumlah para ideolog kian mengecil dan tidak memiliki peran berarti dalam struktur sosial maupun kekuasaan di Indonesia.
Kepergian Pak Riswandha dirasakan oleh banyak kalangan. Kepergian almarhum dimaknai sebagai "Perginya Sang Rajawali", sebagaimana almarhum senantiasa memaknai dirinya sebagai "Eagle Flies Alone" dalam setiap akhir tulisan-tulisannya. Kepergian almarhum merupakan kehilangan sangat besar bangsa Indonesia yang masih membutuhkan telaah cerdas dan kajian kritis almarhum mengenai persoalan sosial politik di negeri yang masih mencari jati dirinya ini.
Tidak terasa napas saya sesak saat mengikuti prosesi pelepasan jenazah siang itu di Balairung, terutama melihat istri almarhum dan putra-putra yang ditinggalkan. Barangkali saya memang sedang sentimentil karena ingat setahun lalu saya berada di sana saat almarhum Bapak disemayamkan di tempat yang sama. Ibu saya malah terlihat sudah meneteskan air mata. Beruntung keesokan paginya saya sempat bersalaman secara personal dengan Ibu Riswandha dan Raffif Imawan, putra pertama almarhum, ketika tanpa sengaja bertemu di makam keluarga UGM Sawitsari, saat saya berziarah ke makam almarhum Bapak. Walau tampak masih dalam raut kesedihan, saya merasakan ketabahan dan kekuatan dalam keluarga Riswandha Imawan. Pak Riswandha orang yang baik, banyak yang turut merasa kehilangan, ajaran-ajaran dan ilmu yang telah beliau sebarluaskan Insya Allah menjadi bekal amal jariyah berharga di kehidupan beliau selanjutnya.
Kepergian mendadak memang sungguh tidak mengenakkan dan meninggalkan kesedihan mendalam bagi orang-orang terdekat, namun Insya Allah kepergian dengan cara ini adalah proses yang terbaik untuk almarhum. Insya Allah almarhum 'Chusnul Chotimmah'.
Selamat jalan Pak Riswandha. Semoga tetap tersenyum di rumah barumu, teriring doa dari kami semua.
Amin.
Recent Comments