My Photo

Categories

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31            

April 05, 2007

Negeri Tanpa Identitas

Hari ini pemred playboy indonesia dibebaskan dari segala tuntutan. Apa yang bisa dibanggakan? Erwin Arnada bilang ini adalah bentuk apresiasi dari kebebasan pers di negeri Indonesia. Hiks, ternyata kebebasan pers telah menjadikan kebanyakan insan pers negeri ini bebas melakukan apa saja, bebas menulis apa saja, bebas menginterpretasikan versi jurnalisme mereka sendiri-sendiri. Hukum pasar lah yang akan menentukan mana berita yang disukai dan mana yang tidak. Dan negeri ini perlahan telah kehilangan identitas, hancur oleh kekuatan modal, paham kapitalisme dan kebebasan.

Lihat media kita, sudah menjadi makanan sehari-hari masyarakat, kontroversi dijadikan bahan jualan laris manis untuk tontonan di berbagai media, cetak maupun elektronik. Bentrokan aparat, demonstrasi anarkis, perkelahian, pertengkaran, perselingkuhan, perceraian, cekcok suami istri, dst., dst. Ini hukum supply dan demand. Semakin kontroversial sebuah berita, semakin tinggi nilai jualnya, semakin tinggi rating pemirsanya, semakin besar sharing sponsornya. "Good News is Bad News", ini kata wartawan teman saya, berita baik-baik ngga akan laku, berita kontroversial lah yang dicari.

Lalu, di mana kita bisa membeli majalah playboy indonesia? Di emperan toko, di kios majalah depan sekolah. Aneh, padahal di negeri asalnya diperdagangkan amat terbatas dan harus memperlihatkan ID untuk membelinya. Dimana kita bisa mabok? Di warung pinggir jalan, atau sambil nyetir pun di sini bisa. Di negara barat, driving under influence of alcohol, hukumannya sangat berat. Negeri kita ternyata lebih barat dari negara barat.

Siapa bilang kita sudah merdeka? Kita ternyata lebih suka tunduk kepada globalisasi. Lihat media kita yang dibanjiri majalah asing dalam berbagai versi yang diindonesiakan. Siapa yang suka acara extravaganza, acara tiruan saturday night livenya NBC? Mana yang lebih lucu? Lalu kita bikin acara miss-missan, ikut miss universe, bikin acara prom night, bikin acara indonesian idol. Kita nonton mtv, pake ipod, ngopi di starbucks, melakukan free sex biar kayak james bond... Bangsa yang lebih suka dijajah dan hanya suka meniru.

Dan negeri ini akan kehilangan segenap identitas, tidak ada lagi pagar idealisme, tidak ada lagi benteng kebanggaan, negeri tanpa generasi yang bangga dengan identitasnya sendiri, negeri dengan generasi yang lebih bangga dengan atribut negara lain. Negeri yang hanya suka meniru. Negeri yang ternyata lebih liberal dari negara liberal sekalipun.

Siapa lagi yang bisa kita harapkan? Pemimpin-pemimpin kita kah? Presiden yang tak punya karakter, kepemimpinan yang hanya ingin merangkul semua kepentingan, menengahi konflik, tanpa keinginan memiliki idealisme dan ketegasan untuk selalu membela kepentingan rakyat kebanyakan. Ujung-ujungnya hanyalah kepentingan sesaat untuk pemilihan presiden nanti. Wakil Presiden yang seorang pedagang, tahunya untung dan rugi, jelas dia hanya seorang opportunis pragmatis. Pemimpin-pemimpin, wakil rakyat dan birokrat yang super duper korup dan haus kekuasaan, tidak ada lagi urat malu saat merampok uang rakyat dan memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan sendiri.

Ya ampun, apalagi yang bisa kita banggakan sebagai warga negara Indonesia yang tercinta ini? Sekarang sih saya hanya bisa bangga kita punya Tukul. Semoga masih ada yang lain.., hiks hiks..

(sorry friends, aku hanya bisa menulis, bukan pesimis)

                            

March 07, 2007

Selamat Jalan Pak Koes...

Duka cita mendalam bersama segenap keluarga besar Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, setelah mendengar berita malam ini yang mengkonfirmasi salah satu jenazah terbakar di RS Sardjito Yogyakarta akibat kecelakaan pesawat Garuda di bandara Adisucipto 7/3/2007 tadi pagi adalah guru, panutan, orang tua, dan mantan rektor kami, Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri. Beliau meninggal dalam usia 80 tahun.

Sosok Pak Koes, panggilan akrab kami-kami mahasiswa-mahasiswanya pada masa kepemimpinan beliau di UGM, tentu memberi kesan sangat mendalam. Beliau adalah rektor yang sangat egaliter dan sangat dekat dengan mahasiswanya. Beliau adalah rektor yang melekatkan citra universitas 'ndeso' untuk UGM pada saat itu, citra yang beliau akui justru suatu bentuk penghormatan, karena menunjukkan UGM berorientasi kerakyatan dan perdesaan, dan memang harus begitulah orientasi yang harus dijalankan oleh UGM . Beliau adalah konseptor KKN (Kuliah Kerja Nyata) sebagai pejabat di Departemen P & K tahun 1970an kepada mahasiswa sebelum lulus sarjana, dan di era kepemimpinan beliau di UGM, KKN mahasiswa dijalankan bukan sebagai beban tetapi sebagai panggilan segenap mahasiswa UGM untuk ikut membangun kawasan pedesaan. Walaupun beliau memimpin UGM hanya satu kali masa jabatan (1986-1990, sebelum digantikan oleh Pak Adnan, karena usia beliau yang sudah memasuki masa pensiun), gaya dan citra kepemimpinan beliau berkesan mendalam bagi segenap warga UGM pada saat itu, baik di kalangan dosen, karyawan, alumni, mahasiswa, hingga pedagang kaki lima. Beliau pada waktu itu merangkap jabatan sebagai ketua KAGAMA (Keluarga Alumni UGM). Beliau tidak segan-segan menengok dosen yang sedang sakit atau baru sembuh dari sakit langsung ke rumahnya. Beliau mendukung dan melindungi aktifitas politik mahasiswa di dalam kampus pada waktu itu. Beliau sering tidak segan menunggui diskusi mahasiswa dalam suatu acara seminar yang diselenggarakan oleh mahasiswanya sampai acara selesai. Beliau mendampingi langsung penerjunan mahasiswa-mahasiswa ke desa-desa untuk KKN, mencarikan dana-dana proyek dan sekaligus meresmikan proyek-proyek KKN di desa-desa yang menjadi tujuan KKN. Beliau mengijinkan dan bahkan memfasilitasi pedagang-pedagang kaki lima untuk berjualan di kawasan lingkungan UGM.

Selesainya era kepemimpinan Pak Koes di UGM saat itu sungguh dinilai sebagai kehilangan yang luar biasa. Mahasiswa pun sampai mengadakan demo meminta masa jabatan Pak Koes diperpanjang. Beliau terbukti sebagai pemimpin yang sangat taat pada aturan. Usia yang sudah menjelang masa pensiun membuat beliau tidak mungkin lagi memimpin, walaupun segenap kalangan dosen, karyawan dan mahasiswa UGM waktu itu berharap Pak Koes dapat memimpin UGM kembali untuk masa jabatan yang kedua. Beberapa kalangan menilai sungguh berat beban pengganti Rektor UGM pada waktu itu, karena harus menggantikan rektor yang begitu dicintai dan begitu dekat dengan segenap lapisan warga UGM.

Sampai saat ini, terakhir pada saat peringatan ulang tahun ke 80 Pak Koes tahun lalu, gaya kepemimpinan Pak Koes di UGM selalu dikenang dan dibicarakan. Bukti bahwa ketokohan dan kepemimpinan beliau di UGM hingga saat ini belum bisa tergantikan oleh siapapun. Bukti bahwa beliau betul-betul sangat dicintai oleh UGM serta mereka yang pernah mengenal dekat dengan beliau.

Kesan saya kepada beliau juga saya rasakan mendalam, terutama pada beberapa pertemuan terakhir, dan sekali lagi atas andil Bapak saya lah saya bisa mengenal dan berbincang dekat dengan beliau. Pada saat ayah saya berpulang dan disemayamkan di Balairung UGM, beliau memeluk saya sangat erat, sambil menangis terisak tanpa berkata-kata. Beliau, yang duduk tepat di depan saya, saya lihat sesekali mengusap air mata sambil melepas kacamata pada saat sambutan mengenang Bapak dibawakan oleh kakak saya dan Pak Boma (Ketua Majelis Guru Besar UGM). Hal yang membuat saya haru terkesan, melihat beliau yang ternyata bisa begitu emosional menyikapi peristiwa ditinggal oleh salah satu kolega terdekat. Kedekatan Pak Koes dengan ayah saya memang saya dengar langsung dari cerita-cerita ayah saya, terutama pada saat UGM mendapat citra 'ndeso' dari masyarakat pada saat kepemimpinan beliau. Ayah saya memimpin sebuah pusat penelitan dan studi pedesaan dan kawasan, dan Pak Koes sebagai rektor. Bapak dan Pak Koes memiliki kesamaan visi dan cita-cita, hampir tidak pernah ada perbedaan pendapat. Selalu saling mendukung ide, sekaligus saling membantu dalam implementasi. Citra ndeso UGM pada waktu itu beliau akui juga diperkuat oleh komitmen penelitian-penelitian yang dilakukan dosen-dosen UGM pada masalah-masalah kemiskinan dan pedesaan.

Tahun lalu saya menelepon beliau untuk menjadi salah satu narasumber penulisan buku riwayat hidup ayah saya yang digagas Yayasan Agro Ekonomika. Beliau menyanggupi dan memberikan waktu untuk wawancara yang dilakukan oleh penulis. Berikut beberapa petikan wawancara tersebut:

"Saya sendiri banyak dikenal sebagai konseptor KKN (Kuliah Kerja Nyata). Pandangan saya banyak yang searah dengan konsep-konsep Pak Muby. Sehingga pada saat UGM disebut sebagai universitas "ndeso", bagi kami-kami ini sebutan nama itu merupakan suatu bentuk penghormatan. Karena "ndeso" orientasinya adalah perdesaan, dan memang itulah Gadjah Mada."

"Saya pernah dikritik soal KKN ini, di Gadjah Mada sendiri, mahasiswa kok disuruh bekerja melebarkan jalan, pengerasan jalan, mengangkut batu, itu kan bukan pekerjaan mahasiswa. Saya katakan, apa tidak boleh mahasiswa tangannya kotor, dan yang perlu dilihat itu adalah pada saat mahasiswa dan masyarakat itu bersama-sama menyusun batu, ada interaksi di antara keduanya. Jadi bukan kok mahasiswa calon sarjana kok mengangkat batu, buat apa. Bukan itu persoalannya. Tindakan mereka menyusun batu, bersama-sama masyarakat membuat jembatan dari bambu untuk memudahkan masyarakat dusun yang satu bepergian ke dusun lain, itulah yang merupakan buah interaksi yang akhirnya akan dibawa mahasiswa ketika mereka menjadi sarjana. Itu akan menempel di sanubari setiap lulusan UGM. Ada yang mengatakan, tanpa KKN pun ada yang bisa jadi sarjana, jadi doktor, jadi dosen, ya memang bisa, siapa bilang tidak. Tapi saya sangat sedih kalau mereka akhirnya tidak kenal rakyatnya. Seorang pemimpin yang tidak kenal rakyatnya, kan jadi menyedihkan."

"Saya dengan Pak Muby itu arah pemikirannya selalu sejalan. Kita sama-sama memiliki kesamaan, bahkan ada ungkapan "setengah kata saja sudah cukup" untuk saling memahami pikiran masing-masing. Saya dan Pak Muby adalah orang yang tidak memiliki post-power sindrome. Kami tidak pernah kehilangan momen untuk terus berkarya, kapanpun dan di manapun.."

Kesan mendalam saya kepada Pak Koes tentu banyak terkait kedekatan beliau dengan ayah saya, kedekatan beliau dengan kalangan muda termasuk mahasiswa dan mantan mahasiswanya, semangat beliau untuk selalu mendukung dan mendorong kreatifitas dan kemajuan anak muda, kepemimpinan beliau yang sangat egaliter, tandatangan beliau di kartu mahasiswa saya (walau hanya satu semester), serta kegigihan beliau untuk terus berkarya hingga usianya yang telah lanjut. Kesan begitu mendalam yang memberi teladan yang sangat penting bagi saya dan kalangan muda pada umumnya untuk dapat mencontoh beliau untuk tidak putus meraih prestasi, kapanpun, dimanapun, di usia berapapun.

Sekali lagi putra UGM berpulang mendadak, walau kali ini melalui proses yang cukup tragis dan dramatis. Duka mendalam pasti tidak akan tertahankan. Terimakasih Pak Koes telah hadir dalam salah satu episode indah perjalanan hidup kami. Sosok mu tidak akan kami lupakan, teladanmu akan kami teruskan. Selamat jalan Pak Koes, semoga berbahagia di rumah barumu sekarang, teriring doa tulus dari kami semua.

Ya Allah terimalah Pak Koes di samping Mu, terimalah amalannya, ampunilah dosanya, berilah keluarganya ketabahan dan kesabaran, berilah kami kekuatan untuk terus melanjutkan cita-citanya. Amin.

September 20, 2006

Save Our Nation!!!

Saya menulis blog ini karena risih selepas melihat acara Metro TV semalam, yaitu acara “Save Our Nation” yang dipandu Rizal Mallarangeng dan menghadirkan 2 narasumber Sri Adiningsih dan Didik Rachbini (Rabu, 20 September 2006 jam 20.00 WIB).

Acara ini menjadi jauh dari makna judul acaranya “Save Our Nation” dan semata dikarenakan faktor pemandu acaranya. Acara ini terlalu amat sangat kental dengan nuansa propaganda globalisasi, neo liberalisme, dan kapitalisme ala Rizal Mallarangeng. Rizal Mallarangeng semua orang sudah faham, adalah antek globalisasi dan neo liberalisme, yang di forum apapun selalu dengan arogan dan merasa paling benar mengatakan bahwa bangsa Indonesia harus segera sadar untuk segera menerima arus globalisasi dan perdagangan bebas tanpa syarat, karena itu adalah syarat mutlak Indonesia untuk bersaing dan berkompetisi di era modern. Globalisasi adalah sarana Indonesia untuk berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia, liberalisme adalah pilihan satu-satunya Indonesia untuk bisa dihormati bangsa-bangsa lain. Proteksi, subsidi, ekonomi kerakyatan menurut dia adalah pandangan kuno yang sudah tidak relevan dan harus ditinggalkan.

Rizal seolah tidak mau membuka mata sedikitpun atas berbagai kerugian yang diderita karena paham liberalisme yang telah banyak merasuk di Indonesia. Carefour dan Giant Supermarket yang mematikan pasar tradisional, impor beras besar-besaran yang merugikan petani, masuknya pakaian-pakaian jadi dari Cina yang mematikan industri garmen dalam negeri, kenaikan harga BBM yang ternyata dipicu kepentingan investor asing dan nyata-nyata merugikan rakyat serta bahkan terbukti meningkatkan angka kemiskinan Indonesia. Rizal juga seolah tidak ingin tahu bila murahnya harga pesawat yang bisa dinikmati di Indonesia sekarang sama sekali tidak memerlukan paham globalisasi, sebagian besar bangsa Indonesia sekarang ini adalah mereka yang hidup di pedesaan yang nyata-nyata tidak memerlukan bisnis ala globalisasi, laju perekonomian rakyat di pelosok tanah air sama sekali tidak memerlukan paham liberalisme pasar yang pada akhirnya hanyalah paham untuk menguntungkan para kapitalis dan pemodal.

Maka jika kita menyimak acara “Save Our Nations” semalam, Rizal yang seharusnya memandu acara, justru mendominasi acara dengan propagandanya, walau para pengamat yang diundangnya acap kali menyangkal apa yang dikatakan Rizal. Dan yang sangat menggelikan adalah ketika Rizal dengan bodoh menayangkan sebuah hasil polling untuk menunjukkan bahwa walaupun LSM-LSM penentang IMF dan Bank Dunia aktif berdemonstrasi di berbagai tempat, namun rakyat tidaklah mendukung mereka, karena hasil polling lebih menunjukkan simpati kepada hasil kerja IMF dan Bank Dunia. Hasil polling mana yang ditunjukkan Rizal? Ternyata hasil polling sebuah lembaga survey di New York!! Alangkah bodohnya... Ketika dia memandu dialog “Save Our Nations” di Metro TV, maka dia pikir ini adalah acara “Save Our America..” !!??

Sangat disayangkan Metro TV menayangkan acara berbau propaganda seperti ini dengan pemandu acara berwawasan dangkal dan sangat arogan karena merasa paling benar tanpa mau mendengarkan pendapat orang lain. Saya kira bila acara ini berjudul “Save Our Nations”, maka saya berpikir Indonesia harus diselamatkan dari orang-orang seperti Rizal Mallarangeng ini. Orang-orang seperti Rizal, Aburizal Bakrie dkk., yang didukung oleh donor-donor berpaham neo liberalisme pendukung globalisasi dan pasar bebas, kita sadari saat ini telah menguasai urat nadi panggung politik dan pemerintahan Indonesia. Kita mengkhawatirkan sepak terjang mereka memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan segelintir elit dan para pemilik modal kaum kapitalis global, serta justru menyengsarakan sejumlah besar masyarakat Indonesia lainnya.

Saya bukannya anti globalisasi sepenuhnya, karena bagaimanapun sebagian bangsa Indonesia tetap bisa mengambil keuntungan di dalamnya. Tetapi menerima paham globalisasi dan liberalisme tanpa reserve, apalagi sampai tergoda dan terjebak dalam belenggu utang yang ditawarkan IMF dan Bank Dunia hingga kita harus bertekuk lutut di hadapan mereka, ini sangat tidak bisa diterima. Kita patut waspada, karena bagaimanapun sebagian besar masyarakat Indonesia tidak ingin terjebak dalam iklim persaingan yang saling mematikan, tetapi jauh lebih membutuhkan daya tahan dan kestabilan iklim usaha untuk kehidupan perekonomian yang lebih menyejahterakan.

August 07, 2006

Perginya Sang Rajawali

Meninggalnya Riswandha Imawan sungguh mengagetkan, terutama untuk orang-orang yang selama ini mengenalnya, mengingat usia yang masih muda (51 tahun) dan kesan sosok ilmuwan bergelar profesor yang tegap, gagah dan energik.

Jumat siang (4/8) pukul 15.15, setelah seharian rewel, gprs modem saya akhirnya beres juga. Seperti biasa halaman pertama yang saya buka ya email dan detik.com. Bener2 kaget, halaman pertama detik ternyata sudah ada 3 berita tentang meninggalnya Pak Riswandha. Baru saya tahu beliau meninggal mendadak karena serangan jantung setelah pingsan di Bandara Adisucipto Yogyakarta siang itu. Akhirnya saya memutuskan pulang ke jogja sore itu juga, setelah membatalkan janji ketemu malam itu dan sabtu pagi dengan beberapa teman untuk membicarakan sebuah proyek, karena toh minggu depan saya akan ke Jakarta lagi. Beruntung tiket kereta Argo Lawu berhasil saya peroleh, karena sore itu adalah week end dimana tentu banyak orang ingin pulang kampung.

Riswandha_ugm_1Sabtu siang, saya, bersama ibu, turut melepas kepergian Pak Riswandha bersama keluarga besar UGM di Balairung UGM. Tidak hanya rekan-rekan seprofesi sesama dosen, karyawan UGM, dan mahasiswa FISIPOL UGM, juga beberapa tokoh politik dan tokoh partai dari Jakarta yang hadir dan dekat dengan almarhum. Saya pun yakin kebanyakan pelayat siang itu, seperti juga saya, adalah pengagum-pengagum almarhum yang mengenal dekat almarhum lewat tulisan-tulisannya di berbagai media yang memang tak terhitung jumlahnya. Luasnya pergaulan almarhum juga tampak dari karangan-karangan bunga yang dikirim sebagai ungkapan duka cita, baik dari kalangan pejabat negara, pejabat daerah, wakil rakyat, kalangan akademik, dan rekan-rekan almarhum. Begitu banyaknya pelayat yang hadir, saya menjadi tidak sempat bersalaman dengan keluarga almarhum.

Bertemu dan berbincang dengan teman-teman pelayat lain yang hadir siang itu, saya merasakan atmosfir kehilangan yang sangat besar dari rekan-rekan dekat almarhum semasa mengabdi di UGM. Mereka bercerita panjang lebar mengenai keseharian almarhum, Pak Riswandha orang yang suka humor dan selalu menghargai orang lain; Pak Riswandha sangat egaliter, sering bercanda dan kadang meledek teman-teman dan mahasiswanya, walau demikian mereka justru merasa dekat dengan beliau; Pak Riswandha terkenal brilian dan sangat kritis dalam tulisan-tulisannya, beliau mampu menciptakan tema yang khas dan spesifik dalam bahasan tulisannya yang bahkan dosen- dosen lain jarang bisa mencapainya; Pak Riswandha sangat prihatin dan malu dengan gejala pelacuran intelektual yang merajalela, dan justru Pak Riswandha  sangat enjoy dan teguh dalam pendiriannya untuk tetap bebas bersuara, sebagaimana motto yang selalu ditulis di akhir tulisan-tulisannya, "Eagle Flies Alone", hal yang seolah menjadi mata air di padang pasir yang kering, di tengah gejala tokoh-tokoh intelektual yang masih suka mengamini apapun yang dikatakan tokoh nasional, walau ucapan mereka itu keliru, dan ketika tokoh-tokoh akademisi lebih memilih masuk dalam kubu-kubu politik, bahkan menjadi anggota DPR; Pak Riswandha ingin menjadi rajawali yang bebas, hal yang justru membuat Pak Riswandha mendapat tempat di masyarakat, suara lugas dan tulisan-tulisan kritisnya banyak dimuat dan diulas di berbagai forum dan media tanah air. Setelah kepergian Pak Riswandha (dan juga Pak Affan Gafar beberapa tahun lalu), FISIPOL UGM perlu waktu panjang untuk mencari penerus sekaliber beliau.

Saya sendiri mengenal almarhum karena dikenalkan Bapak saya, namun selebihnya saya adalah pengagum tulisan-tulisan almarhum di media massa yang tidak pernah saya lewatkan apabila menemukannya, baik di harian Kompas, Kedaulatan Rakyat, Jawa Pos, atau Tempo. Tulisan-tulisan almarhum saya rasakan sebagai jawaban paling mujarab untuk menjelaskan kegundahan, kesedihan, kedongkolan dan kejengkelan saya menyimak berbagai fenomena politik, ekonomi, dan sosial di Indonesia. Terkadang saya memang risi dan malu hidup di negeri dengan pemimpin-pemimpin yang moralitasnya sama sekali tak bisa dibanggakan ini.

Ketika saya bingung memahami pertengkaran antar anggota DPR yang sudah sampai pada tingkat yang memalukan dan menjijikkan, Pak Riswandha muncul dengan tulisan "Kutukan Demokrasi Parlementer" dan "Negara Salah Kaprah". Mengingat awal kiprah DPR hasil pemilu tahun 2004 lalu, membuat kita miris. Dalam sidang-sidang untuk menentukan pimpinan fraksi saja mereka bekelahi habis-habisan dengan disaksikan segenap rakyatnya. Cara berpikir untung-rugi mendominasi perilaku mereka, yaitu "apa yang bisa dimanfaatkan" dari suatu posisi untuk meningkatkan harga jual partai. Rakyat pemilih hanya bisa bingung dan bengong menyaksikan keangkuhan wakil-wakilnya dan menyadari realita inilah hasil jerih payah pemilu yang telah membuang perhatian dan energi. Pak Riswandha kemudian menggambarkan politik Indonesia yang salah kaprah saat terpilihnya Wakil Presiden sebagai Ketua Umum Golkar, yang mengakibatkan ironi seorang Presiden yang secara formal adalah pemilik legitimasi, namun kenyataannya justru Wakil Presiden (yang didukung Golkar, pemilik suara terbesar di DPR) yang merasa lebih legitimate. Hasilnya adalah hadirnya dua nahkoda dengan pola dan tindakan yang berbeda, yang satu militer, yang satu pedagang. Pelayaran pemerintahan pun sering tertumbuk batu karang. Intensitasnya meninggi, hingga kita khawatir kapal tenggelam sebelum sampai ke tujuan.

Ketika saya gundah dengan gejala merajalelanya keserakahan para pemimpin bangsa, Pak Riswandha muncul dengan tulisan di KR, "Pragmatisme Penguasa" dan juga tulisan di Kompas "Vereniging Indische Compagnie". Pak Riswandha secara lugas mengungkapkan bahwa para pemimpin kita tidak akan mampu secara sukarela memikirkan kepentingan publik. Kebijakan yang mereka ambil akan senantiasa bernuansa kepentingan pragmatis demi interest segelintir kelompok elite. Susah untuk mengharapkan mereka berpikir secara jangka panjang dengan kebijakan stategis yang berdampak positif kepada kepentingan masyarakat banyak serta anak cucu mereka di masa depan. Maka kemudian muncul kebijakan-kebijakan seperti kenaikan harga BBM hingga hampir 100%, pembukaan kran impor beras besar-besaran, bagi-bagi dana kompensasi trilyunan dengan cara SLT yang justru menimbulkan konflik horizontal, pemberian hak kelola sumur minyak Cepu kepada Exxon, buaian janji pemberian bantuan hingga puluhan juta rupiah untuk pembangunan rumah korban gempa yang ternyata hanya tinggal janji. Pak Riswandha dengan sangat kritis menggambarkan pemerintahan di bawah kepemimpinan SBY-JK sebagaimana VOC baru, atau VIC, singkatan dari Vereniging Indische Compagnie. Fungsi VIC adalah sebagaimana VOC jaman Hindia Belanda, yakni menghisap kekayaan negara untuk kepentingan segelintir elite seraya menciptakan kemelaratan di tataran rakyat. VIC meletakkan kepentingan publik sebagai commercial goods, sehingga segalanya selalu diukur dengan uang. Apabila terjadi hambatan di level wakil rakyat, maka gaji dan tunjangan anggota DPR pun dinaikkan untuk menstimulasi mulusnya proses. Kebijakan pembagian dana kompensasi kepada warga miskin seolah mengukuhkan politik devide et impera ala VOC lama kepada pemerintahan SBY-JK untuk merusak struktur solidaritas sosial di level masyarakat. Metode pembagian dana dengan cara memberi kail daripada memberi ikan pun mereka abaikan, padahal hal ini terbukti di masa lalu (lewat program IDT misalnya) justru dapat lebih merangsang kemandirian rakyat.

Ketika saya betul-betul risi dengan budaya korupsi pejabat-pejabat pemerintah di segala lini pemerintahan, dari kepala daerah hingga wakil rakyat, dari pejabat elit, ajudan sampai sopir pejabat, Pak Riswandha kemudian muncul dengan tulisannya, "Kleptokrasi". Sungguh pemilihan angle tulisan yang menakjubkan, mewakili kecerdasan beliau dalam memahami gejala peristiwa yang terjadi. Budaya korupsi di Indonesia beliau istilahkan dalam terminologi kleptokrasi, yaitu tingkah laku orang berkuasa yang merasa apa yang diambil secara tidak sah karena jabatannya adalah sesuatu yang (seolah-olah) menjadi haknya. Korupsi merupakan jantungnya kleptokrasi, dan kekuasaan merupakan tulang punggungnya. Kleptokrasi menggejala di Indonesia karena kultur birokrasi mendukungnya. Jabatan elite di birokrasi tidak akan diberikan cuma-cuma, melainkan harus disewa. Untuk meraih jabatan tertentu di birokrasi ataupun di parlemen maka seseorang harus membayar, baik itu dari modalnya sendiri maupun bantuan orang lain. Maka ketika jabatan itu diperoleh, mereka harus menggunakan segala cara termasuk kekuasaannya untuk mengembalikan yang telah dibayar. Maka sikap pragmatis dan opportunis menjadi lumrah, dana rakyat pun mereka anggap menjadi haknya dan sah saja untuk diambil. Pak Riswandha memberikan pengecualian, satu-satunya lawan dari korupsi dan kleptokrasi adalah ideologi, namun sayang jumlah para ideolog kian mengecil dan tidak memiliki peran berarti dalam struktur sosial maupun kekuasaan di Indonesia.

Kepergian Pak Riswandha dirasakan oleh banyak kalangan. Kepergian almarhum dimaknai sebagai "Perginya Sang Rajawali", sebagaimana almarhum senantiasa memaknai dirinya sebagai "Eagle Flies Alone" dalam setiap akhir tulisan-tulisannya. Kepergian almarhum merupakan kehilangan sangat besar bangsa Indonesia yang masih membutuhkan telaah cerdas dan kajian kritis almarhum mengenai persoalan sosial politik di negeri yang masih mencari jati dirinya ini.

Tidak terasa napas saya sesak saat mengikuti prosesi pelepasan jenazah siang itu di Balairung, terutama melihat istri almarhum dan putra-putra yang ditinggalkan. Barangkali saya memang sedang sentimentil karena ingat setahun lalu saya berada di sana saat almarhum Bapak disemayamkan di tempat yang sama. Ibu saya malah terlihat sudah meneteskan air mata. Beruntung keesokan paginya saya sempat bersalaman secara personal dengan Ibu Riswandha dan Raffif Imawan, putra pertama almarhum, ketika tanpa sengaja bertemu di makam keluarga UGM Sawitsari, saat saya berziarah ke makam almarhum Bapak. Walau tampak masih dalam raut kesedihan, saya merasakan ketabahan dan kekuatan dalam keluarga Riswandha Imawan. Pak Riswandha orang yang baik, banyak yang turut merasa kehilangan, ajaran-ajaran dan ilmu yang telah beliau sebarluaskan Insya Allah menjadi bekal amal jariyah berharga di kehidupan beliau selanjutnya.

Kepergian mendadak memang sungguh tidak mengenakkan dan meninggalkan kesedihan mendalam bagi orang-orang terdekat, namun Insya Allah kepergian dengan cara ini adalah proses yang terbaik untuk almarhum. Insya Allah almarhum 'Chusnul Chotimmah'.

Selamat jalan Pak Riswandha. Semoga tetap tersenyum di rumah barumu, teriring doa dari kami semua.

Amin.

November 06, 2005

Pemimpin Indonesia

Mungkin uneg-uneg saya berikut ini adalah contoh pengalaman keputusasaan yang kurang baik dan tidak patut ditiru.

Kenapa ya saya akhir-akhir ini begitu putus asa dengan hidup saya di Indonesia. Mungkin karena menyaksikan betapa kita hidup tanpa pemimpin-pemimpin yang amanah, pemimpin-pemimpin yang dengan sukarela dan tanpa pamrih memperhatikan dan membela rakyatnya, pemimpin yang tahu betul kesulitan dan kesengsaraan rakyatnya. Yang selalu kita saksikan dan kita baca di koran-koran dan media selama ini adalah betapa pemimpin-pemimpin kita adalah orang-orang yang sangat egosentris, memikirkan dirinya sendiri, merasa dirinya adalah sumber kebenaran, telah melakukan kebijakan yang paling benar, tidak peduli terhadap kritik dan koreksi.

Saya menjadi tahu betul betapa Wakil Presiden kita, serta Menko Perekonomian kita, yang adalah seorang pengusaha besar alias konglomerat, tidak akan mungkin dengan sukarela membela kepentingan rakyat kebanyakan. Betapa beliau-beliau ini tentu akan lebih memperhatikan kepentingan kapitalis-kapitalis global yang mempunyai kepentingan terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

Kepentingan kapitalis global adalah kondisi ekonomi Indonesia yang lebih kompetitif, lebih terbuka, lebih liberal, sehingga mereka nantinya dapat ikut mengeruk keuntungan dari nilai lebih kekayaan alam Indonesia dan jumlah penduduk Indonesia yang terbesar ke-5 di dunia. Wakil Presiden dan Menko Perekonomian kita, dan orang-orang dengan kepentingan-kepentingan pragmatis di sekelilingnya tentu sadar bahwa mereka tidak akan menjadi menteri atau pejabat untuk selamanya. Maka ketika mereka memegang kendali sebagai penentu kebijakan tentu tidak ingin merugikan kepentingan bisnisnya dengan membuat kebijakan-kebijakan yang merugikan kepentingan kapitalis global yang notabene adalah rekanan-rekanan bisnis mereka di masa depan.

Maka kemudian harga BBM (termasuk minyak tanah!) dengan mudah mereka naikkan hingga 90-100%, impor beras dibuka lebar-lebar, subsidi untuk menutup bunga utang konglomerat-konglomerat bermasalah tetap dipertahankan, dll dll.. Dan kemudian dengan begitu percaya diri mereka berpidato, kebijakan kenaikan harga BBM ini adalah untuk membela kepentingan rakyat Indonesia, kebijakan kenaikan BBM ini adalah untuk masa depan Indonesiayang lebih baik, badai pasti berlalu... dsb, dsb. Apa mereka masih berpikir orang-orang Indonesia ini bodoh-bodoh dan bisa terus dibuai dengan janji-janji surga semacam itu?

Iya, mungkin ada yang menilai suudzon saya ini terlalu berlebihan, tetapi bukankah uneg-uneg saya ini logis, melihat begitu otoriter dan tidak pedulinya pemimpin-pemimpin kita ini?

Dan kemudian berita-berita wakil-wakil rakyat kita, yang tanpa hati nurani, meminta kenaikan tunjangan 10 juta per bulan...

Sungguh ironis penderitaan bangsa Indonesia saat ini, hidup dengan kesulitan-kesulitan yang bertumpuk-tumpuk, ditambah pula tidak adanya dukungan dan kepedulian dari pemimpin-pemimpinnya untuk bisa bangkit dari keterpurukan.

Ketika ada uneg-uneg begini kemudian saya biasa berdiskusi dengan ayah saya (almarhum). Pada saat-saat begini saya menjadi kehilangan kepercayaan diri menjadi orang Indonesia, dan ketika ada ayah saya yang satu pendapat dengan saya, saya sering menjadi lebih termotivasi lagi. Namun betapa saat ini saya tidak tahu harus ke siapa lagi menyampaikannya karena beliau sudah dipanggil menghadap-Nya. Saya betul-betul kehilangan ayah saya.

Bulan Ramadhan kemarin, lewat ceramah-ceramah ustadz di televisi, memberi hikmah betapa kita masih memiliki Gusti Allah, Allah SWT, tempat kita senantiasa bisa selalu memohon pertolongan. Kita ini adalah hamba-Nya yang ketika merasa berada dalam kesulitan akan diberi Nya pertolongan bila kita dengan ikhlas berserah kepada Nya.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, sadarkanlah pemimpin-pemimpin kami dari godaan-godaan nikmat dunia yang hanya sesaat, berilah bangsa kami kekuatan menghadapi cobaan, Amin3X.

Masih dalam suasana Idul Fitri,
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1426 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Taqoballahu Minna Wa Minkum
Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Amin.

[6 November 2005]

June 01, 2005

In Loving Memory of Father

Betapa saya tidak menyangka Bapak akan secepat ini meninggalkan kami. Sampai saat terakhirpun saya percaya Bapak akan survive dan sembuh dari gangguan sesak napas dan serangan jantung yang dideritanya saat itu. Bapak sudah sering mengalami keadaan seperti ini, dan Bapak selalu menunjukkan kehebatan daya tahan tubuhnya, karena saya sangat tahu Bapak sangat disiplin menjaga kondisi tubuh dengan berolah raga rutin maupun menjaga menu diet makanannya, walaupun saya tahu Bapak harus menyuntik insulin 2 kali sehari selama hampir 3 tahun ini.

Tidak terasa baru hari Jumat 4 hari lalu saya mengantar Bapak ke bandara Adisucipto pergi ke Jakarta untuk keperluan seminar dalam rangka hari kebangkitan nasional pada hari itu. Hari Sabtu pagi saya bersama Ibu mengantar Bapak ke UGD RS Sardjito setelah Bapak mengeluh dada sesak sepulang dari jogging pagi itu. Dokter merujuk ke ICCU untuk rencana perawatan paling tidak selama 5 hari karena gejala paru-paru basah dan serangan jantung ringan yang menyerang Bapak. Tidak terasa baru kemarin saya membantu menyuapi Bapak makan bubur sambil berbaring di tempat tidur ruang ICCU, hari sabtu malam dan minggu pagi saya masih membantu Bapak, yang sedang kangen dengan Fasha, cucu laki-laki dari Dadit di Madison, US, untuk 'webcam-an' dari ruang ICCU memakai laptop saya, baru kemarin pula Bapak masih sempat menanyakan kabar proyek saya di Bontang, Kaltim, dan hingga hari Selasa jam 9 pagi ketika saya tiba-tiba ditelpon Ibu untuk segera berangkat ke rumah sakit tanpa tahu alasannya, dan sesampai di sana Bapak terlihat telah dalam keadaan tak sadarkan diri dengan alat bantu pernapasan telah terpasang di mulutnya. Pada saat-saat terakhir saya masih sempat membisikkan rangkaian kalimat tahlil di telinga Bapak, dan hingga dokter menyatakan Bapak meninggal, sekujur badan saya lemas, spontan saya menangis dan hanya bisa mengatakan, "nyuwun pangapunten Bapak..., innalillahi wainnailaihi rojiun". Semoga ini adalah jalan terbaik yang telah ditentukan Allah untuk Bapak. Hari itu, Selasa, tanggal 24 Mei 2005, pukul 13.50 WIB, Allah SWT menunjukkan kuasa Nya, Bapak, dalam usia 66 tahun, dipanggil menghadap Nya.

Muby_1 Rasanya tak cukup kalimat untuk melukiskan betapa banyak pengalaman dan kenangan indah yang pernah saya rasakan bersama Bapak. Rasanya sulit untuk membatasi kata-kata ungkapan kasih sayang saya untuk Bapak. Sosok seorang Bapak yang sabar, sederhana, rendah hati, namun juga berdisiplin dan selalu bekerja keras menjadi panutan dan teladan bagi kami sekeluarga.

Bapak yang saya kenal adalah orang yang selalu bersemangat, bekerja keras, dan disiplin mengerjakan sesuatu yang menjadi cita-cita dan keyakinannya. Betapa Bapak telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk ilmu pengetahuan dan bagaimana menerapkannya semata-mata untuk kesejahteraan rakyat. Di manapun dan kapanpun Bapak tidak akan lepas dari buku ataupun ballpoint dan kertas tulis tempat untuk menuliskan semua refleksi, gagasan, dan pemikiran mengenai berbagai persoalan yang terlintas dan Bapak ketemukan. Bagi Bapak, membaca dan menulis adalah kegiatan sehari-hari. Sebagai seorang peneliti Bapak jarang sekali melakukan penelitian dengan hanya mengolah data sekunder, Bapak selalu menemui secara langsung obyek telitiannya, sehingga untuk itu Bapakpun tak segan-segan menempuh perjalanan berhari-hari memasuki daerah-daerah di pelosok dan pedalaman. Bapak senantiasa mengerjakan semuanya tanpa mengeluh walau kadang-kadang rasa capek dan lelah menghinggapi. Kerja keras Bapak semata-mata adalah untuk memperjuangkan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan penerapan kebijakan yang memihak kepada keadilan dan kesejahteraan masyarakat banyak, hal yang kadang terasa semakin jauh dari harapan yang dirasakan sebagian besar bangsa Indonesia. Bagi Bapak senjata ampuh yang dimiliki untuk modal perjuangannya adalah kemampuan menulis dan kemampuan bicara yang dilandasi wawasan bacaan, pengalaman empirik, ideologi, konsistensi, dan ketegasan sikap yang meyakinkan. Semua ini tidak hanya menjadi kekaguman saya kepada sosok Bapak, tetapi juga mendapat tempat di berbagai forum dan organisasi baik yang sifatnya ilmu pengetahuan, politik, pemerintahan, ataupun sosial kemasyarakatan.

Sebagai seorang kepala keluarga, Bapak ingin selalu memanfaatkan kebersamaan kapanpun saat kami semua bisa berkumpul di sela-sela kesibukannya. Waktu yang banyak Bapak manfaatkan adalah saat makan malam di meja makan dimana kami dapat saling bertukar cerita dan pengalaman. Sepanjang hidup saya, terasa sosok seorang Bapak yang selalu mengayomi, menasehati, dan membimbing kami dalam menjalani segala tantangan hidup di dunia ini, baik dalam hidup berkeluarga, bersaudara, bersosialisasi, berinteraksi, dan bermasyarakat. Bapak membimbing kami dengan teladan dan kesabaran. Keramahan, keakraban, kerendahhatian, kesahajaan, dan kesederhanaan Bapak menjadi teladan yang tidak akan pernah dapat kami lupakan. Bapak tidak pernah secara eksplisit memaksakan kehendaknya kepada kami, tetapi secara implisit memberikan petunjuk bagaimana kita menjalani hidup ini dengan selalu bersyukur atas apa yang bisa kita miliki sampai hari ini.

Ajaran Bapak yang selalu tertanam adalah bagaimana menjalani hidup ini dengan selalu bersyukur dan senantiasa melihat ke orang-orang di sekitar kita yang masih hidup dalam kondisi yang masih serba tidak cukup. Apabila Bapak bertugas untuk mewawancarai orang miskin atau meninjau desa-desa terpencil di pelosok pedalaman, kami, anak-anaknya, senantiasa untuk sedapatnya diajak serta. Kota-kota kecil dan desa-desa terpencil di Yogyakarta, Jawa Tengah, Kepulauan Seribu, hingga Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, dan Irian Jaya menjadi daerah dimana saya pernah diajak dalam kunjungan Bapak ke daerah-daerah yang menjadi obyek penelitiannya. Kami tahu benar, tujuan Bapak mengajak kami adalah untuk selalu mengingatkan mengenai kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia yang bersahaja, sederhana, dan tidak berlebihan di kampung-kampung pinggiran kota maupun di pelosok-pelosok pedesaan. Melihat orang yang masih hidup dalam kemiskinan, Bapak ingin selalu mengingatkan kami, betapa kita sekarang ini masih lebih beruntung dari mereka, dan betapa merekalah yang justru harus pertama kali kita tolong dan perhatikan. Bapak telah menunjukkan teladan kepada kami mengenai kepercayaan diri dan ketegasan sikap dalam membela keyakinannya untuk senantiasa menegakkan keadilan dan kebenaran.

Bapak membimbing kepribadian kami dengan kesabaran. Bapak tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada saya, walau saya tahu terkadang Bapak kurang sependapat dengan pilihan yang akhirnya saya jalani. Bapak sangat percaya kepada kedewasaan kami, anak-anaknya, dalam memilih yang terbaik untuk kami sendiri. Bapak tidak memaksa kami belajar di Fakultas Ekonomi walaupun kami tahu benar Bapak sangat menginginkan salah seorang dari kami menjadi penerusnya menjadi seorang ekonom. Bapak tetap mendukung sepenuhnya ketika saya memutuskan keluar dari kemapanan pekerjaan dengan gaji tetap untuk kemudian menjalankan bisnis yang saya yakini akan berkembang nanti. Bapak tetap dengan sabar menunggu saya mengambil keputusan untuk segera hidup berkeluarga, walau saya tahu benar Bapak tidak ingin menunggunya lagi terlalu lama.

Bapak, aku mohon maaf atas tingkah laku dan kata-kataku yang kadang tanpa sengaja justru membuat Bapak sedih. Aku masih belum sempat menunjukkan betapa besar terimakasihku kepada Bapak yang telah memberikanku kehidupan yang menyenangkan dan penuh makna. Aku masih belum sempat membuktikan keberhasilan didikan dan ajaran yang telah Bapak berikan selama ini kepadaku.

Ya Allah rasanya Engkau terlalu cepat memanggil Bapak yang sangat aku sayang dan hormati. Berilah aku kekuatan untuk ikhlas melepas kepergian Bapak, tunjukkan aku jalan untuk selalu dekat dengan Mu melengkapi peninggalan Bapak sebagai anak yang sholeh yang selalu mendoakan orangtuanya, tunjukkanlah aku kemudahan untuk dapat meneruskan selalu teladan-teladan yang telah Bapak ajarkan di sepanjang hidupku ini.

Selamat jalan Bapak, semoga Bapak tetap tersenyum dan berbahagia di rumah barumu sekarang.

Ya Allah, berikanlah Bapak kemudahan dalam perjalanan pulangnya ke rumah Mu, terimalah Bapak di tempat yang nyaman di sisi Mu.

Amin.

[1 Juni 2005]